421 total views |

properti

Dulu seingat saya di tahun 1990-an kita heboh dengan penduduk dunia sudah berjumlah 5 milyar, bahkan ada bayi yang dinobatkan sebagai penduduk dunia ke 5 milyar.

Ternyata ketika saya sedang browsing – browsing kemarin ada fakta baru yang lumayan bikin kaget. Berdasarkan data dari www.internetworldstats.com,

Sekarang penduduk dunia sudah mencapai 7.634.757.932, dan ini terus bertambah setiap detiknya.

Sebagai ilustrasi di Amerika Serikat terjadi 1 kelahiran setiap 8 detik, dan 1 kematian setiap 10 detik. Sementara itu terjadi juga migrasi internasional ke Amerika Serikat menambahkan 1 orang baru dalam 29 detik. Dari data ini Biro Sensus Amerika Serikat menarik kesimpulan bahwa setiap 18 detik ada 1 orang baru yang menjadi penduduk Amerika Serikat. (sumber: http://time.com/5081315/most-populated-countries-in-the-world-2018).

properti

Dari data di atas juga bisa terlihat kalau negara yang persentase penambahan penduduknya cukup banyak adalah Nigeria, India, Pakistan dan Mexico.

Dengan pertambahan jumlah penduduk yang luar biasa pesatnya itu, artinya kita jangan takut untuk menjadi produsen barang. Tentunya yang bisa terserap lebih cepat adalah barang – barang pokok untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan papan.

Coba sekali-sekali Observer piknik ke Nigeria atau India, sambil melihat kira – kira peluang yang bagus apa ya di sana?

Kenapa di negara-negara tersebut di atas?

Teori ekonomi dasar adalah peluang makin besar dengan adanya kebutuhan (demand) yang besar. Dengan pertambahan penduduk yang begitu tinggi tentunya permintaan akan besar dan Nilai rupiah kita tidak jatuh disana. (asumsi saya)

Nilai 10 ribu rupiah = 47,8 indian rupee. Nah, perbandingan yang paling mudah adalah dengan membandingkan harga McDonalds di setiap Negara. Di Indonesia harga burger Fillet O Fish adalah Rp 25.500, Di India harganya 130 Rupee (sekitar Rp. 27,200), di Amerika Serikat (New York) harga produk yang sama adalah USD 4.47 (sekitar Rp 64.170,1 dengan asumsi nilai tukar dolar 1 USD = Rp 14.355,1)

(sumber dari : www.mcdelivery.co.id, www.mcdelivery.co.id, www.tapingo.com)

 

Wah, ternyata harga di India tidak berbeda jauh ya dengan di Indonesia. Sementara apabila dibandingkan dengan Amerika Serikat terlihat sekali ada perbedaan yang mencolok.

Di Nigeria sendiri nilai 10 ribu rupiah = 250,429 NGN (Nigerian Naira), karena di Nigeria tidak ada Mc Donalds, kali ini kita pakai KFC sebagai perbandingan. Di Indonesia Harga Paket Super Besar dengan 2 ayam, 1 nasi dan 1 minuman adalah Rp 44,500, sementara di Nigeria harga paket yang serupa adalah 950 NGN (sekitar Rp 37,925). Bahkan lebih murah dari di Indonesia.

Ilustrasi di atas menunjukakn, untuk berusaha di Negara Dunia Ketiga, modal yang diperlukan lebih sedikit atau sama tetapi dengan kemungkinan persaingan yang lebih sedikit dan hasil yang lebih besar karena demand yang ada sangat besar.

Sekarang tinggal kita lihat, apa sih yang paling dibutuhkan di sana? Layaknya negara berkembang, pastinya kebutuhan fashion (sandang) dan properti (papan) akan sangat tinggi. Apakah kebutuhan Fashion dan Properti sudah cukup disana?

Kalau pemikiran saya sih untuk Nigeria, dengan iklim tropis dan kelembaban yang tinggi, pasti butuh pakaian yang tipis, namun tetap melindungi. Kayanya bisa juga Observer mulai cek produksi garmen dengan pasar Nigeria. Pakaian dengan model daster – daster panjang yang tipis dan melambai sepertinya cocok untuk iklim di sana. Oiya, jangan lupa ya, motif dan corak harus disesuaikan dengan selera pasar sana yang cenderung ramai dan mencolok. Tentu saja ukuran juga harus disesuaikan dengan ukuran standar Nigeria. Rasanya saya jarang melihat orang Nigeria yang ukuran badannya seperti orang Indonesia.

Ternyata sebagian penduduk Nigeria juga beragama Islam. Cocok juga kalau kita mau mulai ekspor mukena – mukena bahan rayon yang tipis dan adem. Atau kerudung – kerudung cantik dengan motif dan bahan yang menarik. Selalu ingat ya Observers kriteria kecocokan warna dan ukuran karena pasti berbeda dengan pangsa pasar dalam negeri.

properti

properti

Masuk ke India, orang India terkenal banyak yang vegetarian. Dengan jumlah penduduk yang demikian banyaknya saya rasa setiap produk makanan yang sesuai dengan selera mereka akan cepat diserap pasar. Mungkin pilihan yang aman adalah buah – buahan. Kita bisa saja memproduksi buah – buahan yang dikeringkan atau yang sudah diolah untuk dicoba dilempar ke pasar India, karena jumlah buah di India tidak sebanyak di Indonesia. Lagipula buah kering, lebih mudah dikemas secara higienis.

properti

Untuk membuka usaha properti pun saya rasa masih sangat feasible. Di India dan Nigeria, lahan yang tersedia masih cukup luas, harga bahan bangunan kurang lebih sama dengan Indonesia, upah buruh juga tidak terlalu tinggi, demand saya rasa sih cukup tinggi yah, dengan jumlah penduduk yang padat. Hanya mungkin, harus ada partner lokal yang sudah kita percaya dan sudah hafal lika – liku bisnis properti di sana, dan sekali lagi kita harus bisa menyesuaikan properti yang kita bangun dengan kebutuhan dan selera masyarakat di sana.

Untuk dapat memastikan kami menantang Observer untuk berani membuka wawasan, jadilah the next Sinarmasland atau Ciputra yang bisa membangun properti di negara lain.

Nah kalau di Indonesia sendiri bagaimana?

Rasanya untuk di Indonesia, bisnis properti masih tetap bersinar sih. Tingkat pertambahan penduduk yang cukup tinggi menyebabkan akan selalu muncul kebutuhan akan tempat tinggal. Sesuai dengan piramida penduduk Indonesia yang memiliki tipe ekspansive, tercermin dari pola piramida yang melebar di bagian bawah dan cembung di bagian tengah yang merupakan penduduk usia muda. Sementara di bagian atas yang merupakan penduduk usia tua meruncing. Dengan jumlah penduduk usia 0-4 tahun yang terbanyak, yakni mencapai 23,85 juta, yang artinya ada sekian puluh juta manusia yang akan membutuhkan tempat tinggal/ hunian di usia produktif mereka nanti.

properti

Banyak faktor yang menentukan pemilihan lokasi tempat tinggal. Kalau dulu jarak ke tempat beraktivitas masih jadi faktor utama. Namun seiring dengan naiknya harga tanah dan bangunan secara signifikan di pusat kota, maka faktor jarak ini mulai tergeser oleh faktor akses. Apakah itu akses ke fasilitas transportasi umum, akses ke jalan tol penghubung maupun akses masuk menuju lokasi.

Selain itu juga faktor utama yang menentukan adalah fasilitas umum, apakah ada sekolah yang cukup baik? Apakah ada fasilitas kesehatan yang memadai? Apakah ada sarana hiburan dan olahraga yang mumpuni?

Tinggal pilih ya Observer, tapi ingat jangan sampai salah pilih. Resiko investasi properti agak lumayan tinggi, mengingat modal yang dikeluarkan juga cukup tinggi.

 

Share To: