Penulis: Athaya Dwicita Kamerlangga | Editor: Ratna MU Harahap

Hai Observer! Minggu lalu, saya baru saja nonton sebuah drama korea yang sedang heboh berseliweran diantara mulut teman-teman saya, Summer Strike. Dalam drama ini, digambarkan bahwa karakter utamanya (Yeoreum) tengah mengalami krisis kehidupan lantaran pekerjaannya di Seoul yang tak kunjung membuahkan hasil yang diimpikannya. Jangankan mendapatkan perlakuan yang baik dari rekan kerjanya, Yeoreum selalu ditimpa dengan berbagai kemalangan. Alhasil, ia memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya demi menemukan “penyembuhan” bagi dirinya.

Memahami alur ceritanya yang bisa dibilang cukup sederhana dan realistis, munculah sekelum pikiran, apa sih yang sebenarnya menjadi pemicu kebanyakan orang stres ataupun kurang puas dengan pekerjaannya? Pastinya ada berbagai alasan dan saya yakin alasan setiap orang akan berbeda. Jika berkaca dari drama Summer Strike, Yeoreum menjadi tidak puas dengan pekerjaannya karena faktor lingkungan kantor. Hmm kalau boleh curhat sedikit, kecemasan yang muncul untuk saya sebagai seorang pegawai swasta sih… fakta bahwa saya belum memiliki passive income pribadi. Lantas, apa itu passive income?

Income1

Dilansir dari Investopedia, passive income merupakan penghasilan sampingan yang diperoleh tanpa dibutuhkannya tenaga ataupun usaha khusus. Sederhananya bila Anda adalah seorang pegawai, passive income ini akan datang sebagai sumber pemasukan Anda secara sampingan, di luar dari gaji pokok yang Anda dapatkan. Passive income sendiri dapat diperoleh melalui banyak kegiatan, salah satunya adalah melalui usaha sewa properti—yang mana merupakan hal yang sangat menarik untuk saya.

Dengan menyewakan properti, Anda otomatis tidak harus terlibat di dalam kegiatan tersebut. Anda hanya perlu memiliki sebuah properti yang tentunya dapat disewakan. Nah berbicara soal properti yang dapat disewakan, saya menemukan sebuah cara bagaimana saya akan merealisasikan mimpi saya untuk memiliki passive income melalui usaha sewa properti, yaitu dengan membeli ruko di Latinos Business District! Observer pasti sudah kenalkan dengan nama tersebut?

Invest2

Latinos Business District atau LBD merupakan sebuah kawasan komersial yang terletak di BSD City. Kawasan komersial ini telah diresmikan sejak bulan Januari 2022 silam. Singkat cerita, saya mulai mengenal Latinos Business District ketika saya membaca sebuah berita di CNBC. Dalam berita tersebut, dituliskan bahwa BSD City tengah mengembangkan salah satu produk unggulannya yaitu Latinos Business District, sebagai pilihan investasi bagi masyarakat. Lantas, kata investasi langsung memercik antusiasme saya, sebagai seseorang yang tengah mencari cara untuk menghasilkan passive income. Mengetahui hal tersebut tentunya membuat saya berpikir tak hanya sekali, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan Latinos Business District sebagai pilihan utama untuk berinvestasi.

Sejak saat itu, saya mulai mencari lebih banyak lagi tentang Latinos Business District, khususnya melalui akun Instagramnya (@latinosbusinessdistrict). Mungkin Observer bertanya-tanya mengapa saya tertarik untuk memiliki ruko di Latinos Business District dan bukan di tempat lain. Ketika berbicara mengenai opsi, jelas ada banyak sekali opsi ruko yang patut dilirik. Namun yang membuat saya terpikat dengan Latinos Business District adalah konsep easy accessnya. Saking strategisnya, Latinos Business District hanya memiliki jarak sekitar 600 m dari Stasiun Rawa Buntu. Bahkan, hanya dibutuhkan waktu 2 menit saja untuk sampai ke pintu Tol Jakarta-Serpong dari Latinos Business District. Sebagai boutique SOHO pertama di BSD, Latinos Business District juga semakin memancing ketertarikan dan minat saya.

Invest3

Tapi tak hanya sebatas konsep bangunan yang efektif dan efisien saja, Latinos Business District juga memiliki banyak fitur lainnya yang menurut saya juga sangat menggiurkan. Ruko ini dikatakan memiliki investment gain yang cukup tinggi. Tak hanya itu, Latinos Business District juga memiliki desain yang modern sehingga fasad maupun interiornya terkesan lebih rapih dan minimalis. Hal ini tentunya akan membawa kesan yang baik bagi para pengunjung ruko, terutama bagi kaum muda yang notabenenya suka dengan hal-hal berbau modern.

Invest4

Selain itu, Latinos Business District terdiri dari 3 lantai dimana ketiga lantai tersebut bisa dipadukan antara area usaha dan area tempat tinggal. Berbicara mengenai keinginan, saya pribadi sih berharap bisa menyewakan keseluruhan bangunan. Kalau bisa, lantai satu akan saya sewakan ke tenant restoran Jepang, lantai 2 akan saya sewakan ke tenant salon, dan lantai 3 akan saya sewakan sebagai co-working space. Observer, ternyata dengan melakukan usaha sewa properti kita dapat menghasilkan passive income lho, menarik bukan?

Ngomong-ngomong masih melanjutkan pembahasan ini, terakhir, bukan saya kalau tidak mempertimbangkan mahkluk yang namanya “biaya”. Setelah mengkalkulasikan harga ruko di Latinos Business District yang dimulai dari kisaran 1,9 miliar, dengan perkiraan biaya sewa tenant, juga ditambah dengan kemampuan finansial saat ini, doakan saja ruko ini dapat terbeli secepatnya ya Observer!

Sebagai penutup, bila ada diantara Observer yang berbagi kecemasan yang sama dengan saya—waswas karena belum memiliki passive income, mungkin Latinos Business District bisa menjadi jalan keluarnya. Maka dari itu, yuk Observer, kita manifestasikan!

About Author

administrator

Property Observer adalah portal yang memberi informasi secara up to date dan informatif, baik dalam segi lifestyle , bisnis, dan segala jenis aspek kebutuhan. Namun dari semua itu ada satu aspek yang sangat di butuhkan oleh manusia yaitu property.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *