2,496 total views |

“Manfaatkan Peluang ini Sebaik – baiknya”

     Beberapa hari yang lalu, saya janjian untuk bertemu teman di sebuah jaringan kopi terkenal. Rupanya sang teman membawa temannya lagi. Penampilannya santai dengan sneakers, rambut pendek dan tanpa make up, seperti anak-anak remaja yang akan berjalan-jalan di mall. Rupanya, beliau adalah pemilik sebuah perusahahan berbasis technology yang sudah mulai merambah bisnis hingga ke Singapura. Saya menyadari bahwa sudah terjadi pergeseran luar biasa atas dunia professional di Indonesia. Dulu, jaman saya kuliah, menjadi enterpreuneur merupakan sesuatu yang dipandang beresiko dan malah kurang bergengsi, bergengsi itu kalau bisa bekerja di perusahaan asing. Sekarang, Indonesia bahkan sudah menjadi salah satu negara dengan start-up terbanyak. Tepatnya, di awal tahun ini, Indonesia dinobatkan sebagai negara keempat dunia sebagai negara dengan start-up terbanyak yaitu 1,705 startup seperti dilaporkan oleh media Berita Satu.

     Data ini membangkitkan naluri bisnis saya, untuk bikin usaha start-up dengan anak 2 yang masih membutuhkan perhatian, rasanya agak sulit, tetapi memanfaatkan potensi start-up dengan menyediakan tempat kerja yang layak, sepertinya masih memungkinkan!

     Setelah memutar memory dan teringat akan produk yang dibahas disini yaitu Alesha, saya pikir Alesha cocok banget dijadikan rumah bagi para pendiri start-up karena layout-nya memungkinkan untuk dipisahkan antara area kerja dan area tinggal. Belum lagi kolam renang semi private yang pasti akan membuat suasana kerja yang lain dari pada yang lain. Akhirnya, saya iseng mencari tahu tentang tempat tinggal yang bisa digunakan juga untuk kantor dan saya pun menemukan nama Stephen Perlman. Ceritanya sungguh menginspirasi.

Incubator untuk Enterpreuner
Jika satu atau 2 ruangan di Alesha disatukan menjadi ruang bersama, maka sangat memungkinkan diadakan sharing ide atau workshop diselenggarakan disini
Naluri Bisnis
                                                             Dining area yang bisa berfungsi sebagai ruang meeting

     Stephen Perlman, seorang inventor dan tech executive, menjual salah satu perusahaanya, Web TV pada Microsoft di tahun 1997 seharga kurang lebih setengah juta dollar. Pada saat yang sama Perlman memutuskan untuk membuat sebuah incubator dimana seniman, ilmuwan, dan insinyur bisa memuat technology baru.

     Perlman kemudian membeli dua property di sebuah bangunan berbentuk loft di South Beach, San Francisco seharga $1,5juta kemudian merekrut arsitek Jim Jennings untuk merenovasi tempat tersebut. Mengingat bahwa Perlman membangun sebuah tempat yang diperuntukan bagi orang untuk menemukan sesuatu yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya (cita-cita semua anak millennial dan perusahaan start-up di Indonesia), maka tempat yang akan dibangun ini harus fleksibel dan nyaman untuk ditinggali. “Tempat ini akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar sebuah tempat kerja” kata Perlman. “Ini akan menjadi suatu tempat yang indah.” Komponen artistic dan keindahan merupakan hal yang penting karena Perlman menginginkann sebuah tempat dimana orang yang menyewa bisa tinggal dengan nyaman untuk waktu yang cukup lama.

     Modifikasi interior loft ini, dari tahun ke tahun, mencapai kurang lebih $2,5 juta dollar hingga $3juta dollar (angka ini hanya tebakan saja, Perlman menjelaskan), walaupun angka sebesar itu sangat kecil dibandingkan jumlah uang yang dihasilkan oleh tempat itu: “Sekitar $400 juta dollar sudah ditanamkan pada perusahaan-perusahaan yang lahir di tempat tersebut,” kata Perlman lagi.

Enterpreuner Indonesia
Ruang duduk bisa ditambah dengan projector dan langsung beralih fungsi menjadi ruang presentasi yang santai tetapi inspiratif

     Satu hal yang menarik dari konsep ini adalah ruang – ruang bersama yang memiliki fasilitas lengkap yang dapat mengakomodir kebutuhan perusahaan-perusahaan pemula. Sebagai perusahaan start-up, kebanyakan dari mereka hanya beranggotakan 3-5 orang yang sebenarnya tidak membutuhkan ruang meeting atau presentasi permanen.

     Perlman tidak pernah tinggal di loft tersebut, tetapi banyak orang lain yang pernah tinggal disana untuk waktu yang cukup lama. Terdapat sebuah kamar utama yang dilengkapi dengan sebuah kamar mandi dengan hot tub/ steam bath/ shower yang dilengakapi dengan sebuah HDTV dan speaker yang kedap air, seperti yang dibuat untuk kapal – kapal laut sehingga siapapun yang tinggal di loft tersebut dapat bersantai selama berjam-jam di kamar mandi sambil menonton TV. Perlman seringkali menantang pendatang loft tersebut untuk menemukan rahasia menuju ruang rahasia ini. (Sst, rahasianya adalah dengan menarik salah satu buku di rak bukunya, dengan cara yang “benar”)

     Loft milik Perlman ini juga memiliki sebuah dapur mewah, plus sebuah ruang makan yang bisa juga digunakan sebagai area rapat. Selain itu juga terdapat ruangan-ruangan yang dapat digunakan sebagai ruang tidur tambahan. “Kita memiliki ruang audio dan rekaman,” jelas Perlman, “dan karena pada saat melakukan rekaman suara, anda memerlukan ruangan yang kedap suara, maka dinding ruangan ini dilapissi dengan bahan kedap suara yang artinya apabila akan digunakan sebagai area untuk tidur, maka ruangan ini akan nyaman sekali karena akan sangat sunyi.”

     Saya langsung terpikir tentang Alesha, kalau mau dibuat ultra canggih seperti loft Stephen Perlman, mengapa tidak mungkin untuk membeli dua (atau lebih) unit Alesha dan meng-convert-nya menjadi awesome nest, bagi perusahaan-perusahaan yang baru berdiri dan mengerami mereka hingga siap untuk berdiri sendiri dan memiliki kantor sendiri? Ide membuat kantor sementara ini juga merupakan ide yang fresh di Jakarta bahkan di Indonesia. Dengan banyaknya jumlah start-up di Indonesia yang juga terus berkembang dengan jumlah pendapatan tahun 2017 mencapai $1.7 miliar, tentu menggambarkan banyaknya perusahaan baru yang membutuhkan space. Sebagai investor property, ini adalah peluang, hanya saja kita harus jeli menangkap keunikan sehingga property yang kita tawarkan memiliki ke”khas”an dibandingkan property lain, seperti yang dilakukan oleh Stephen Perlman diatas.

Cluster Alesha
Lantai atas tetap menjadi suite yang diperuntukkan bagi pemilik perusahaan yang ingin selalu dekat dengan sumber idenya

     Jangan lupa di Alesha sudah ada bonus swimming pool di tengah-tengahnya, kembangkan imajinasi anda, maka Alesha siap disulap menjadi “nest” bagi perusahaan – perusahaan start-up di Indonesia.

 

Referensi:

1. https://www.bloomberg.com/news/articles/2018-09-07/this-startup-factory-loft-in-san-francisco-has-a-secret-room?srnd=pursuits-vp, diakses 20 September 2018

2. http://www.beritasatu.com/iptek/478120-jumlah-startup-di-indonesia-terbanyak-keempat-di-dunia.html, diakses 20 September 2018

3. https://id.techinasia.com/laporan-pendanaan-startup-indonesia-2017, diakses 20 September 2018

Share To: