509 total views |

“Cambridge? IB? National Plus?”

 Cermati Sebelum Memilih

Tipe – Tipe Sekolah
                                                     Tipe – tipe sekolah untuk masa depan buah hati. source image: “freepik”

Hai Observer, karena memilih sekolah yang tepat untuk putra putri kita sama pentingnya dengan memilih investasi mana yang aman untuk dana pendidikan kita, kita coba lihat yuk, apa saja sih plus minus kurikulum nasional maupun internasional yang umumnya ada di Indonesia?

Pengamalan saya dan suami, yang kami rasa kurang siap adalah dimana dengan perkembangan pendidikan di Indonesia terutama sepuluh tahun terakhir, kami sendiri sebagai orang tua dan Raisha anak kami, dihadapkan pada banyaknya pilihan sekolah. Alternatif yang ada mulai dari sekolah kurikulum nasional berbasis karakter seperti yang ia jalani selama SD, hingga sekolah bertaraf internasional seperti kurikulum “International Baccalaureate” (IB) yang diakui di 170 negara di dunia.

Berdasarkan pengalaman tersebut saya mencoba untuk memberikan ulasan singkat mengenai kurikulum pendidikan di Indonesia:

1. Kurikulum Nasional Plus Berbasis Karakter

Semenjak Raisha naik ke kelas TKB, kami sepakat bahwa kami ingin memasukan Raisha di sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter karena kami percaya, di usia SD, sangat penting untuk membentuk karakter. Walaupun sudah memutuskan demikian, tetap saja awalnya kami bingung karena setiap kali ditanya “tadi belajar apa di sekolah?” jawaban Raisha hanya dua “Enggak tau” atau “Enggak belajar apa-apa.” Sekolah ini pun tidak menggunakan “text book” sehingga saya semakin panik. “Aduh, anak saya kok nyantai banget sih?” Pulang ke rumah yang dibawa juga bukan PR, malah gambar-gambar yang dia buat sendiri di kelas. Waduh, masa mau pendidikan karakter terus tapi gak ada akademisnya? Begitulah kuatirnya saya.

Tapi, kami melihat semangat belajar Raisha semakin menggebu-gebu, sampai-sampai di kelas 1 SD, dia sendiri yang meminta (hingga berlinangan air mata) untuk ikut les matematika berbasis Jepang di dua tempat sekaligus. Sepanjang SD, Raisha beberapa kali juara Matematika. Puncaknya, nilai UN Matematikanya hampir sempurna. Jadi, Kekuatan sekolah-sekolah seperti ini adalah menguatkan kepribadian anak. Anak-anak didik untuk percaya diri dan menjadi dirinya sendiri. Yang harus ditaklukan dalam persaingan bukanlah teman, tetapi dirinya sendiri. Makanya dalam kasus Raisha, karena dia cukup cepat menemukan kegemarannya mengulik angka dan didukung oleh guru-gurunya di sekolah, maka pada saat ia menargetkan dirinya sendiri untuk jadi juara, tanpa harus saya teriak-teriak meminta dia belajarpun, dia sudah lakukan sendiri. Ini adalah kelebihan sekolah berbasis karakter pada umumnya. Siswa mereka lebih percaya diri dan yang penting bersaing lebih dulu dengan dirinya sendiri. Mereka menggunakan metode hasil riset berpuluh-puluh tahun untuk berbicara dengan anak dan menanamkan tanggung jawab pada anak.

Kurikulum Nasional
                                                                                          Kurikulum nasional berbasis karakter

Tentu saja ada yang harus diperhatikan dari sekolah-sekolah seperti ini. Kelemahan utama dari sekolah-sekolah ini, sangat tergantung dengan kemampuan SDM Guru yang memegang kelas. Guru yang berbeda antara local yang satu dengan yang lain, bisa menyebabkan hasil pendidikan yang berbeda. Selain itu, walaupun seolah ringan bagi orang tua karena tidak ada PR dan ulangan, peran orang tua harus sangat aktif. Diskusi secara konsisten dan terus menerus mengenai pertanyaan seputar pelajaran sampai keluhannya atas teman harus terus dilakukan untuk mengarahkan dia agar ber “positif thinking”. Sebagai “parents”, menjaga konsistensi kita untuk berdiskusi dengan terbuka dan memegang teguh kesepakatan apapun yang kita setujui bersama itulah yang berat mengingat kadang berbagai masalah juga menghampiri kita disaat yang sama kita harus terbuka berdiskusi dengan kepala dingin.

Apabila Observer berkunjung ke sekolah seperti ini, mintalah waktu untuk melakukan “trial”. Sebagai orang tua, Observer berhak meminta duduk di kelas, atau minimal mintalah waktu untuk berbincang-bincang dengan calon guru kelas anak Observer. Soalnya, untuk settingan sekolah berbasis karakter seperti ini, anak-anak akan menuntut adanya contoh. Apabila anak-anak dilarang berbohong, tetapi sang guru suka memberikan “excuse”, pendidikan karakter ini pasti terhambat karena contoh yang dilihat anak-anak tidak tepat. Hal lainnya, pastikan karakter yang dibangun di sekolah-sekolah semacam ini, sesuai dengan visi misi Observer di rumah. Ketika sekolah mengajarkan untuk fair, terbuka dan berani mengemukakan pendapat, apakah Observer sebagai orang tua sudah siap menerima kritikan dan saran dari anak-anak “Observer?)

2. Kurikulum Nasional Plus Berbasis Bahasa Dan Tambahan Subjek

Jenis sekolah nasional plus lain yang lazim ditemui adalah sekolah yang menawarkan muatan-muatan lokal tambahan seperti Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, hingga Sains (di Kurikulum 2013 Revisi 2016, komptensi dasar dan kompetensi inti IPA dimasukan dalam konten Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 1-3). Sering kali, sekolah-sekolah seperti ini juga menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sehingga untuk orang tua yang menginginkan anaknya bisa menguasai bahasa asing, sekolah seperti ini bisa menjadi alternatif. Kelebihan sekolah-sekolah seperti ini, siswa menyerap banyak materi pembelajaran hingga yang tahap yang lebih rumit. Contohnya, apabila di sekolah nasional lain untuk kelas 3 SD, perhitungan sampai ratusan ribu, di sekolah seperti ini, sudah mencapai jutaan. Sekolah-sekolah seperti ini juga kuat pada subjek-subjek yang dianggap sulit dan sering menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan siswa yaitu matematika, sains dan bahasa inggris.

Pendidikan Anak
                                                                             kurikulum nasional plus berbasis & tambahan subjek

Kelemahannya, umumnya sekolah-sekolah seperti ini tidak melakukan pendekatan personal. Siswa juga harus berkompetisi dengan siswanya melalui “system rangking” sehingga sering kali harus les tambahan di luar sekolah yang menyita waktu. Untuk Observer yang berkunjung dan mencoba mempelajari tentang sekolah-sekolah ini, coba minta waktu untuk “trial” dan lihat apakah anak Observer bisa mengikuti ritme belajar seperti itu. Karena sekolah-sekolah seperti ini menawarkan perkembangan akademis yang cepat, pastikan kualitas guru-guru yang ada sudah sesuai dengan yang dijanjikan oleh pihak sekolah. Contoh, bagi sekolah yang menawarkan “full-English”, apakah guru-guru mereka sanggup berbahasa Inggris pada tingkat yang diharuskan untuk mengajar konsep pembelajaran dalam bahasa Inggris? Contoh, dari hasil diskusi Observer, mungkinkah guru yang ada, bisa menerangkan konsep pecahan atau konsep rumit matematika lainnya dalam bahasa Inggris yang mumpuni? Apabila guru-gurunya sendiri belum sanggup berbahasa Inggris hingga ke tingkatan tersebut, resikonya, anak Observer tidak mendapatkan pelajaran bahasa Inggris yang diharapkan ditambah tidak mengerti konsep matematika yang sedang dipelajarinya. Perlu difikirkan dengan kondisi seperti ini, apakah ada jalan tengah? Misalnya, belajar matematika di sekolah yang tidak berbahasa Inggris sehingga ia mengerti betul tentang matematika lalu mengambil kelas tambahan bahasa Inggris di luar.

Apabila di awal terjadi penolakan oleh anak terhadap lingkungan yang “rigid” seperti ini, pikirkan alernatif untuk bertemu dengan seorang “psycholog” anak untuk mengevaluasi kesiapan anak Observer terjun di lingkungan yang berkompetisi tinggi seperti itu. Tidak cocok di lingkungan seperti itu bukan berarti anak Observer kalah lho. Setiap anak memiliki kekuatannya masing-masing, dia hanya perlu lingkungan yang tepat untuk menunjukan bakatnya.

3. Kurikulum Cambridge

Kurikulum Cambridge

Kurikulum Cambridge ini berasal dari Inggris. Anak-anak yang belajar menggunakan kurikulum ini harus mengambil subjek atau mata pelajaran tertentu, diantaranya, Matematika dan Bahasa Inggris, sebagai “core subject” dan di level yang lebih tinggi yaitu pada tingakatan yang disebut “secondary”, anak-anak diwajibkan untuk memilih subjek pilihan. Dalam kurikulum Cambridge terdapat beberapa tes yang harus dilalui siswa untuk lulus dari satu level ke level yang lainnya, termasuk di dalamnya adalah tes yang dikenal dengan IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) dilanjutkan dengan Cambridge A Level di tingkat Junior College (setara kelas 11-12 SMA). Tes ini dilaksanakan oleh tim dari Cambridge itu sendiri bukan oleh sekolah. Kekuatan sekolah berkurikulum Cambridge adalah kedalaman subjek yang dipelajarai oleh siswa. Misalnya, untuk kelas 5 SD, siswa mempelajari organ utama dalam sistem pernafasan manusia, kurikulum Cambridge bisa mencakup organ pendukung. Kelebihan lainnya, sebagai kurikulum internasional, sekolah yang mengusung kurikulum ini wajib memiliki tim guru yang fasih berbahasa Inggris bahkan cenderung memiliki guru-guru asing. Fasilitas sekolah-sekolah seperti ini juga bisanya lebih lengkap dibanding sekolah biasa.

Kurikulum Internasional
                                                                                                            Kurikulum Cambridge

Tentu saja, sekolah bersertifikat Cambridge ini mahal, selain itu, dikarenakan banyaknya tes yang harus dilalui di setiap tingkatan, tuntutan akademis di sekolah-sekolah seperti ini cukup tinggi. Ada beberapa hal yang perlu Observer waspadai ketika mendaftarkan anak Observer ke sekolah-sekolah berkurikulum internasional. Apakah sekolah tersebut benar-benar sekolah resmi dan terdaftar sebagai “provider” kurikulum tersebut? Untuk Cambridge, jangan ragu untuk mengontak perwakilan mereka untuk menanyakan status sebuah sekolah. Coba email ke: info@cambridgeinternational.org atau kunjungi web mereka http://www.cambridgeinternational.org untuk informasi mengenai sekolah-sekolah yang menawarkan program ini.

Satu lagi yang harus diawasi dengan cermat adalah, apakah anak Observer akan bersekolah ke luar negeri? Apabila anak Observer masih seumur anak saya atau bahkan lebih kecil, sangatlah wajar apabila Observer masih ragu. Nah, beberapa sekolah menawarkan dua jenis ijazah yaitu ijazah Cambridge dan Ijazah nasional melalui Ujian Nasional. Alternatif ini bisa dijadikan pertimbangan bagi Observer yang belum memutuskan tujuan kuliah anak-anak Observer.

4. Kurikukum International Baccalaureate (IB)

Kurikulum International Baccalaurate (IB)
                                                        Program Model Kurikulum International Baccalaurate (IB)

Pendekatan kurikulum IB berbeda dengan pendakatan kurikulum Cambridge dimana pada kurikulum IB, pendekatan yang digunakan lebih “holistic” dan oleh karena itu lebih fleksibel dibandingkan kurikulum Cambridge. Siswa yang mengikuti kurikulum IB difokuskan dalam menyelesaikan projek yang dibangun bersama tim atau mendalam bersama guru. Selain lulus ujian di tahun ke-12, untuk lulus dari sebuah program IB, siswa diwajibkan menulis essay sepanjang 4,000 kata dari topik yang ditentukan oleh siswa dan pembimbingnya. Untuk lulus, siswa juga diwajibkan terlibat dalam “Creativity Action Service” dimana di dalamnya termasuk aktivitas seni, olahraga dan “community service”.

Masa Depan
                          Program Model Kurikulum International Baccalaurate (IB) di Jepang, source: the japan times

Kelemahan sekolah berbasis IB adalah tingginya biaya pendidikan yang disebabkan karena guru dan fasilitas yang sangat tinggi sehingga diperlukan biaya tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan setara ini. Seperti juga Cambridge, waspadai ketika mendaftarkan anak Observer ke sekolah-sekolah berkurikulum IB. Apakah sekolah tersebut benar-benar sekolah resmi dan terdaftar sebagai “provider” kurikulum tersebut? Untuk IB, Observer bisa mengunjungi website mereka https://www.ibo.org/ Observer akan mendapatkan pilihan untuk memasukan nama sekolah yang sedang Observer lihat melalui menu “Find an IB World School”.

Dari keempat penjelasan kurikulum tersebut, patut dicermati bahwa kurikulum tersebut sedikit banyak akan membentuk budaya sekolah. Sekolah dengan sistem kompetisi tentu akan berbeda dengan sekolah bersisitem holistic yang menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Yang manakah yang menurut Observer yang terbaik untuk mengembangkan potensi anak Observer? Jawabannya benar-benar tergantung Observer dan pribadi anak-anak Observer.

 

Share To: