130 total views |

“ Pemusik Berhasil Membangun salah satu hotel terbaik di Asia ! ”

 

Bangkok merupakan salah satu kota teramai di Asia Tenggara. Dengan segala daya tariknya Bangkok juga merupakan salah satu kota yang paling banyak dikunjungi oleh turis. Beragam jenis akomodasi bisa Observer dapatkan dengan mudah, hanya tinggal disesuaikan dengan budget dan preferensi. Ada beberapa traveler yang hanya mau manginap di chain hotel, dengan alasan dia tidak usah takut bahwa hotel itu akan jelek, kotor atau kumuh, karena semua sudah terstandardisasi. Ada juga yang senang menginap di hotel-hotel unik misalnya seperti Hotel Tugu di Malang atau hotel-hotel yang ada di jaringan Aman group.

Nah kebetulan, ketika saya mengunjungi Bangkok, saya berkesempatan untuk menginap di The Siam Bangkok, yang terletak persis di pinggir sungai Chao Praya. Hotel ini dibangun oleh Krissada Sukosol, yang menyebut dirinya sebagai ‘musical hoteliers’, karena selain sebagai hotelier, ia juga berprofesi sebagai pemusik.

Dalam pikirannya pada saat ia membangun The Siam Bangkok adalah hotel ini harus menjadi hotel yang “stand out”, dan memiliki karakteristik yang kuat, karena dunia perhotelan ini dominasi dari brand brand seperti Marriot, Park Hyatt dan Oriental sangat lah kuat. Kalau dalam industri musik, kami adalah band indie, yang harus berjuang untuk mendapatkan “die hard fans” dengan jalan menonjolkan keunikan yang tidak dapat dimiliki oleh yang lain.

the siam hotel bangkok

Berdasarkan pemikiran inilah ia membangun Thai Siam Bangkok, yang memiliki 39 kamar suites, yang didominasi oleh warna hitam dan putih serta dibangun dengan gaya arsitektur Art Deco.

The Siam Bangkok
                                                                                         Pic Credit : www.mransmrssmith.com

Bukan satu kebetulan, kalau Krissada ini merupakan pengumpul barang antik, sehingga kita akan menemukan beragam objek antik sebagai elemen dekorasi dari hotel ini.

Kali ini saya cukup beruntung bisa tinggal di Riverview Suites dengan pemandangan Sungai Chao Praya, dan ruang duduk indah tempat saya menikmati hidangan teh sore yang nikmat maupun saat bersantai sambil menikmati sarapan yang lezat. Tentu saja kamar saya ini dilengkapi dengan plunge pool, yang terletak di tengah taman yang indah.

Riverview Suites
                                                                                                          Riverview Suites

Untuk anda yang butuh ruang yang lebih lega, bisa menginap di Connie’s Cottage, yang merupakan rumah kayu 2 lantai. Konon rumah ini didatangkan langsung dari Ayutthaya dengan menggunakan transportasi sungai oleh kolektor seni Connie Mangskau dan pedagang sutra Jim Thompson.

Connie Mangskau
                                                                                                     Connie’s Cottage
Connie Mangskau
                                                                                          Connie’s Cottage – Bathroom

Sore itu saya habiskan dengan berkeliling sambil melihat koleksi antik milik Krissada.  Beberapa barang yang saya lihat adalah sebuah kursi dokter gigi antik buatan tahun 1940 yang berasal dari Burma, Helem Militer Thailand dari jaman Raja Rama ke 5 (1868-1910), lemari obat buatan tahun 1920 dari Cina, Lemari Bar buatan tahun 1930 an dari Paris, dan tentu saja darah pemusiknya membuat Krissada berkeras untuk memiliki pemutar piringan hitam “This WWII ‘His Master’s Voice’ (HMV) yang legendaris.

Sore itu, ia juga memutar beberapa koleksi album jazz nya di pemutar piringan hitam ini dan menjelaskan perbedaan musik yang diputar di alat ini dengan musik yang diputar dengan menggunakan piranti modern. Saat itu saya hanya mengangguk dan tersenyum saja, karena terus terang bagi saya sih semua musik kedengarannya sama saya. Psst , please don’t tell him about this.

Tapi sore ini saya merasakan suatu hal yang berbeda, duduk di ruang hotel dengan atmosfer art deco yang kental dikelilingi oleh barang – barang antik ini membuat saya merasa bergerak mundur ke tahun 1930 an. Semua terasa cocok, tanpa ada nuansa antik yang berlebihan, Krissada berhasil menghadirkan nuansa nostalgia yang manis dan pas di The Siam Bangkok Hotel.

Art Deco

Art Deco

Keesokan harinya saya bangun cukup pagi, karena ingin mencoba kelas yoga yang diadakan di beranda hotel dengan pemandangan kolam renang, yang cukup menyejukkan mengingat pagi itu cuaca Bangkok cukup panas. Setelah selesai, saya memutuskan untuk sarapan ringan sambil menyesap secangkir kopi di Café Cha. Sengaja saya hanya makan sepotong croissant yang luar biasa lezat, karena setelah ini saya akan langsung ke Opium Spa.

Apalah artinya ke Bangkok tanpa mencoba Thai Massage yang sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Sesampainya di Opium Spa, saya sempat kebingungan memilih antara Aroma Journey Massage, yang menggunakan teknik ala Sodashi, yang menggabungkan antara pijatan dengan wewangian lembut  yang akan meredakan ketegangan fisik dan metal, atau Muay Thai Massage, yang menggunakan teknik pijatan yang lebih keras untuk meredakan ketegangan pada otot – otot badan sekaligus melepas racun dan sumbatan yang ada di dalam tubuh. Akhirnya saya memilih Aroma Journey Massage and oh I feel like I’m in Heaven!

 

The Siam Bangkok

Teknik pijatan yang lembut di titik – titik yang tepat dengan menggunakan aromatherapy berkualitas tinggi produk Sodashi, membuat saya seakan akan sedang melayang-layang di atas awan.

The Siam Bangkok

Saya berusaha keras untuk tidak tertidur karena ingin benar – benar menikmati pijatan ini, namun akhirnya kelelahan akibat perjalanan panjang dan kelas yoga yang baru saja saya ikut membuat saya tertidur di tengah sesi pijat. Dan ketika bangun, badan saya sudah terasa jauhhhh lebih segar dan ringan. Sebenarnya di Opium Spa disediakan juga kamar mandi yang sangat memadai, namun setelah selesai dipijat, saya memutuskan untuk mandi berendam di kamar saja.

Selesai mandi, perut mulai terasa lapar, saya pun memutuskan untuk makan siang di Chon Thai Restaurant. Restaurant ini terletak di sebuah rumah kayu tradisional ala thai, dengan dekorasi yang sangat autentik. Di sini pula lah saya merasakan Tom Yum Soup terlezat yang pernah saya coba seumur hidup saya.

Sambil berbincang-bincang dengan staff hotel, saya akhirnya tahu bahwa The Siam Bangkok ini memiliki layanan unik yang sulit ditemukan di hotel lain, yaitu pembuatan Sak Yant Tattoo, yaitu pembuatan tattoo dengan motif-motif yang dianggap suci dengan menggunakan teknik tattoo tradisional ala thai. Menurut mereka, tradisi ini sudah mulai langka di wilayah Thailand, tapi masih bisa dilakukan di Thai Siam Bangkok. Benar ya, masuk  ke sini memang seakan masuk mundur ke sebuah era di masa lampau.

 

The Siam Bangkok
                                                                                                                   Sak Yant Tattoo

Salah satu keunikan dari Thai Siam Hotel adalah meskipun banyak barang antik di sini, tapi hotel ini sangat Kid Friendly dan bahkan juga Pet Friendly. Salah satu contohnya adalah di Opium Spa kemarin ada program Spa yang dirancang khusus untuk anak dan remaja. Mereka juga menyediakan layanan baby sitting.

Sedangkan untuk binatang, dengan biaya tambahan sebesar THB 1,500, anjing peliharaan anda bisa ikut menginap di sini. Tentu saja ada syarat khusus, yaitu harus menggunakan tali apabila berada di area umum dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam restoran.

Menginap di The Siam Bangkok yang nyaman ini membuat saya malas pergi kemana mana, padahal lokasinya cukup strategis, tidak terlalu jauh dari Vimanmek Teak Mansion dan kebun Binatang Dusit, keduanya terletak di  Dusit Park, dan hanya 15 Menit dari The National Museum, Grand Palace, dan Wat Pho serta Wat Arun. Kunjungan saya kali ini benar benar hanya saya habiskan di hotel sambil menikmati suasana hotel yang santai dan nyaman.

Chain Hotel

Mungkin hotel ini bisa dijadikan sebagai tempat istirahat, bagi anda yang sudah melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan di sekitar Thailand atau Bangkok. Cobalah untuk menginap di malam – malam terakhir anda di Bangkok, untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan pikiran sebelum pulang ke negara masing-masing.

Jim Thompson
                                                                                              Area Library The Siam Bangkok

Facts about The Siam Bangkok

How To Get Here :

Rasanya ada banyak sekali maskapai yang melayani penerbangan ke Suvarnabhumi Airport. Dari sini anda bisa melanjutkan dengan taksi, kereta bandara (pemberhentian terakhir adalah di Paya Thai yang letaknya cukup dekat dengan The Siam Bangkok)

The Siam Bangkok juga memiliki dermaga pribadi dan anda bisa naik speedboat milik hotel dari dan ke Sathorn Central Pier, yang lokasinya dekat sekali dari Pemberhentian BTS Skytrain di Saphan Taksin.

Rate :

Anda bisa menginap dengan rate mulai dari Rp 7-9 juta an / malamnya

Share To: