CHASE YOUR PASSIONS AND MONEY WILL COME. CHASE MONEY AND YOU MAY NEVER FIND YOUR PASSION (Colin Wright – Author)

Bekerja itu harus sesuai dengan passion…

Wah, jangan idealis, yang penting menghasilkan uang…

Mana yang anda pilih? Bekerja di bidang yang memang kita sukai atau yang penting menghasilkan uang?

Sayangnya, kondisi ideal mengerjakan sesuatu yang kita sukai dan menghasilkan banyak uang, tidak selalu bisa kita lakukan. Bahkan mungkin hampir tidak dapat terjadi.

Mengapa?

Karena dalam pekerjaan ada berbagai aspek atau kegiatan yang menjadi bagian di dalamnya. Dan pasti ada dari bagian itu yang tidak kita sukai.

Misalnya saja, saya amat suka mengajar. Dapat dikatakan bahwa passion saya adalah mengajar. Bisa dalam bentuk kuliah atau training. Dalam memberikan kuliah, ada beberapa bagian. Mulai dari membuat lesson plan, mempersiapkan bahan, proses mengajar dan administrasi, seperti membuat soal ujian atau tugas essay. Kemudian kita harus menilainya. Mempersiapkan bahan atau materi, membuat presentasi atau hand out dan proses mengajarnya merupakan bagian yang saya sukai. Tapi menilai tugas, terus terang, bukan bagian yang saya sukai. Apalagi kalau essay atau ujiannya berupa tulisan tangan. Namun tentu saja, bagian ini tidak bisa saya hindari.

Artinya, bahkan dalam pekerjaan yang kita sukai, pasti tetap saja ada bagian yang kurang kita suka, namun tentu saja tetap harus saya lakukan dengan sepenuh hati, sebaik mungkin.

[URIS id=6371]

UANG VS KEBAHAGIAAN

Banyak quote yang berkata bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan. Apakah itu benar?

Nah, menurut penelitian yang dilakukan oleh Angus Deaton & Daniel Kahreman dari Center For Health & Wellbeing di Princeton University, Amerika Serikat, ada penghasilan minimum yang perlu dimiliki seseorang sebelum ia dapat dikatakan berbahagia.

Di Amerika Serikat, penghasilan minimum untuk orang bisa berbahagia ini adalah sekitar 75 ribu dollar Amerika Serikat setahun. Rata-rata pengeluaran di sana untuk kehidupan yang standar adalah 65 ribu dollar Amerika Serikat per tahun. Jadi artinya, untuk dapat mulai berbahagia, seseorang harus dapat memenuhi dulu kepentingan dasarnya seperti makanan, kesehatan dan tempat tinggal serta mempunyai sedikit tabungan.

Dari penelitian ini ditemukan bahwa akan sulit sekali bagi seseorang untuk merasa bahagia kalau kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Dibedakan ya antara kebutuhan dasar dengan yang keinginan. Misalnya perbedaan antara bisa makan cukup dengan bisa makan apa yang kita inginkan.

DAN MENURUT PSIKOLOGI?

Menurut ilmu psikologi, di tiap rentang usia, ada tugas-tugas yang harus kita penuhi. Kalau tugas ini selesai maka kita akan dapat melanjutkan ke tahapan berikutnya dengan baik. Namun kalau tidak, akan terjadi masalah psikologis di kemudian hari.

Menurut Erik Erikson, di usia 40-65 tahun kita memasuki tahap Generativity VS Stagnation. Dalam tahapan ini, kita sebagai orang dewasa harus punya kegiatan yang kita anggap berharga untuk mengembangkan orang lain di luar keluarga kita. Kita bertugas untuk mengembangkan keterampilan atau kedewasaan sesama kita. Misalnya kita memberikan coaching di kantor, mengajar keterampilan baru walaupun dilakukan dari rumah, atau membimbing seseorang di organisasi.

[URIS id=6380]

Bila berhasil maka kita akan menjadi seseorang yang bijaksana. Namun bila tidak, kita akan menyesali kehidupan kita yang lalu dan tidak dewasa. Post power syndrome pun dapat terjadi.

Jadi dalam psikologi, justru yang penting adalah bukan bekerja sesuai passion, namun kita berkewajiban mengembangkan orang lain saat kita sudah masuk usia dewasa.

JADI BAGAIMANA?

Tentu akan ideal bila kita mendapatkan atau melakukan pekerjaan yang kita sukai. Namun yang lebih penting adalah memenuhi kebutuhan dasar dulu.

Setelah itu, saat kita lebih dewasa, kita harus mengembangkan orang lain. Misalnya lewat coaching, membina atau sekedar mengajarkan sebuah skill.

Sementara bagaimana dengan passion kita?

Bila pekerjaan kita memang benar-benar tidak sesuai, cobalah cari bagian yang kita sukai dan sesuai passion. Misalnya bisa bagian dari pekerjaan atau sosialisasi dengan teman sekantor.

Bila tidak mungkin, passion dapat kita lakukan sebagai hobi di waktu luang. Kita juga bisa mengembangkan orang lain lewat hobi tersebut. Misalnya passion kita adalah otomotif, maka kita bisa melatih orang lain, entah secara langsung atau lewat media sosial, berbagai aktivitas otomotif di waktu senggang kita.

Atau kita bisa melakukannya sebagai pekerjaan kedua atau sampingan, di waktu luang kita. Misalnya kita senang membuat kue, maka kita bisa membuka PO berbagai jenis kue yang dapat kita buat.

Sambil bekerja, kita juga sambil bisa terus melihat passion kita tersebut, apakah memungkinkan untuk dijadikan sumber penghasilan utama. Karena bagaimana pun juga menurut pebisnis Ehab Atalla, without business skills, your passion or hobby will not translate into money in your pocket.

Rosdiana Setyaningrum

Psychologist, Co-Founder and Center Director of MS School and Wellbeing Center.

About Author

Rosdiana Setyaningrum

Property Observer adalah portal yang memberi informasi secara up to date dan informatif, baik dalam segi lifestyle , bisnis, dan segala jenis aspek kebutuhan. Namun dari semua itu ada satu aspek yang sangat di butuhkan oleh manusia yaitu property.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *