534 total views |

“Entering the Twilight Zone at MORI Building Digital Art Museum”

Observer pasti pernah jalan – jalan ke museum kan? Biasanya tiap “traveling” ke sebuah negara saya selalu menyempatkan diri ke museum yang terkenal di negara tersebut. Mulai dari “Louvre” di Paris, “Rijksmuseum” di Amsterdam sampai ke museum yang aneh dan tidak lazim seperti “Sex Museum”, “Ice Cream Museum” di New York, dan yang terakhir saya kunjungi adalah “Siriraj Medical Museum” yang juga dikenal sebagai “Museum of Death” di Bangkok yang cukup membuat bulu kuduk sedikit merinding.

Dari semua museum yang pernah saya kunjungi, semua berisi objek – objek yang bisa diliat wujud nyatanya. Apakah itu lukisan, patung, benda bersejarah dan lain – lain. Hampir seluruh barang ditempatkan di dalam lemari atau etalase yang terkunci, dengan sistem keamanan yang mutakhir. Harus selalu bergerak dengan hati – hati, takut menyenggol atau menabrak sesuatu. Kita juga harus berjalan mengikuti alur yang sudah ditetapkan. Cukup sulit kalau Observer berkunjung bersama anak – anak ya.

Tapi, semua teori tentang museum itu tidak berlaku di “MORI Digital Art Museum (MORI)” yang terletak di Odaiba Tokyo. Salah satu dasar dari pemikiran dibangunnya MORI ini adalah karena ada anggapan bahwa seni, terutama seni digital adalah sesuatu yang sangat dinamis dan interaktif. Tidak ada batasan apapun karena memang dunia digital adalah sebuah dunia yang tanpa batas. Di MORI ini kita bisa merasakan pendekatan baru terhadap seni dengan menggunakan media digital sehingga manusia tidak hanya menjadi penikmat karya seni, tapi bisa sekaligus berinteraksi bahkan merubah seni yang dipamerkan. Pengunjung bisa benar – benar masuk ke dalam sebuah karya seni.

Digital art
Karya “Dance of Koi and People” yaitu “Drawing on the Water Surface”. Pengunjung berjalan melalui air setinggi lutut dengan ikan digital berenang – renang di sekitar

MORI merupakan inisiatif dari “TeamLab”, yang merupakan kumpulan dari orang yang bergerak di bidang kreatif dan digital seperti desainer, ilmuwan komputer, insinyur dan programmer yang dideskripsikan sebagai kaum “ultra technologist”.

TeamLab berkolaborasi dengan “Mori Building”, sebuah perusahaan developer di Tokyo dan didukung oleh Epson, berhasil mewujudkan MORI Building Digital Art Museum di atas lahan seluas 10.000 m2 yang hampir seluruh area tertutup oleh 50 karya instalasi seni digital yang dihasilkan dari 520 unit “computer”, 470 unit proyektor, dan sensor gerak di seluruh ruangannya.

Mori art museum japan
“Forest of Resonating Lamps”. Dimana ratusan lampu LED berwarna – warni digantungkan dari atas.

Seluruh lantai dan dinding di sini penuh dengan cahaya dan gambar – gambar yang bereaksi secara langsung terhadap kehadiran pengunjung. Seluruh karya instalasi digital di sini walaupun secara teknis terpisah – pisah, namun bisa menyatu dengan apik. Salah satu karya instalasi yang cukup membuat saya terkesan adalah sekumpulan ikan (digital yah) yang terus bergerak mengelilingi seluruh gedung, berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.

Museum seni di jepang
“The United Waterfall”

Di museum ini, Observer tidak akan bertemu dengan “guide”, tidak akan mendapatkan buku petunjuk atau peta, tidak akan juga melihat “sign” petunjuk arah yang biasanya terdapat di museum. Selain itu tidak ada juga larangan untuk berfoto, mengambil video atau bahkan larangan memegang karya seni. Padahal hal tersebut yang biasanya diharamkan di museum. Hal ini mungkin sekali terjadi karena di MORI ini memang tidak ada karya seni yang bisa rusak atau pecah. TeamLab menginginkan bahwa semua orang yang masuk ke MORI ini bisa merasakan dan berinteraksi dengan karya seni yang ada. Para pengunjung juga dipersilahkan untuk berfoto atau mengambil video sepuasnya (dan Anda ngga akan pernah merasa puas. Trust me on this!). Seni disini ditampilkan secara dinamis dalam cara yang tidak akan terbayangkan sebelumnya.

Secara garis besar , MORI terbagi menjadi 5 bagian, yaitu

1. Borderless World

Museum
Borderless World

Bagian ini menyuguhkan pemandangan alam yang interaktif. Sambil berjalan menyusuri hutan cahaya Observer akan menemukan air terjun digital, bisa juga menyentuh burung – burung yang terbang di sekitar Anda. Di sekitar kita juga akan terhampar “image” bunga, pohon dan tanaman lain secara bergantian. Perubahan – perubahan warna cahaya dan “image” yang ditampilkan terus berjalan secara simultan, hal ini adalah untuk menggambarkan perubahan musim dan cuaca yang terus berganti.

Yang lebih unik lagi, gambar – gambar yang ditampilkan tidak pernah sama, jangan bayangkan ini akan membosankan seperti film atau gambar yang diulang secara terus menerus.

Bagian ini seperti merepresentasikan kehidupan di luar sana, yang selalu ada namun tidak akan pernah terasa sama.

2. Athletics Forest

Museum seni di jepang
Athletics Forest

Di museum biasanya kita akan menahan anak – anak supaya tidak berlari – lari, namun di bagian “Athletics Forest” ini, semua orang baik itu anak – anak meupun orang dewasa bisa lari – lari, melompat – lompat di “trampoline” yang berkonsep luar angkasa, memanjat dan berjalan di papan keseimbangan di tengah lampu yang bergantungan di seluruh ruangan.

Zona sebenarnya ditujukan untuk mengasah kemampuan spasial otak manusia dan mengajak orang untuk terus bergerak.

Seni
Athletics Forest

3. Future Park

Bagian ini dirancang untuk anak – anak, sehingga anak – anak bisa berinteraksi dengan seni melalui berbagai permainan dan aktivitas yang ada. Salah satu aktivitas yang menurut saya sangat menarik adalah ketika anak – anak menggambar ikan secara digital, kemudia mereka bisa melihat ikan mereka itu berenang – renang di aquarium, ketika mereka mengetuk kaca aquarium, ikan tersebut akan berenang menjauh.

Ada juga dinding musikal, yang akan berbunyi ketika ditepuk.. Bayangkan bermain piano, tapi di dinding. “The power of technology indeed..”

Aktivitas-aktivitas di sini dirancang untuk meningkatkan imajinasi dan memperkenalkan konsep sains sejak usia dini.

Digital art
Anak – anak sedang berinteraksi dengan seni di bagian Future Park

4. Forest of Lamps

Jepang
Forest of Lamps

Sesuai dengan namanya “Forest of Lamps”. Disini pengunjung akan tenggelam dalam lautan cahaya lampu, cahaya ini akan bergerak ke lampu yang lain apabila lampu ini disentuh. Bayangkan apa yang terjadi kalau ada puluhan orang di ruang yang sama melakukan aktivitas ini? Satu kata dari saya.. “MIND BLOWING!!”

5. The En Tea House

Bagian terakhir ini sengaja dirancang lebih “tenang” dari bagian lain. Di bagian ini Anda bisa menikmati “matcha tea” (yang bisa dibeli seharga 500 yen), tapi selain krim dan gula, Anda juga akan mendapat “image digital” dari bunga diproyeksikan ke teh Anda. Image ini akan berangsur – angsur hilang seiring dengan habisnya teh anda. Melalui aktivitas ini juga, MORI mendorong pengunjung untuk saling berinteraksi satu sama lain, setelah melalui perjalanan digital yang luar biasa.

Digital art
The En Tea House

Begitulah perjalanan yang menakjubkan ke “MORI Building Digital Art Museum”, yang bagi saya merupakan salah satu bukti nyata dari kemajuan teknologi digital di dunia. Sungguh, ini adalah salah satu museum yang harus dimasukkan ke dalam “bucket list” Anda. Pengalaman saya di dalam sungguh sangat “surreal”, dan sulit diceritakan dengan kata – kata.

Facts About Mori :

• Lokasi MORI adalah di daerah Odaiba Tokyo, bila Anda sudah melihat patung Gundam raksasa berarti anda sudah dekat dengan tujuan

• Beli lah tiket jauh – jauh hari secara “online”. Anda tidak akan menemukan loket tiket di museum ini. Museum ini menerapkan kuota jumlah pengunjung sehingga saat ini tiket sering sekali sudah “sold out” dari jauh – jauh hari. Jangan sampai sudah jauh – jauh kesana Anda tidak bisa masuk karena tidak ada tiket.

• Harga tiket : 3.200 Yen/orang

• Alokasikan waktu yang cukup panjang, karena percayalah begitu Anda masuk, Anda pasti tidak ingin cepat keluar dari sini.

• Gunakan baju dan sepatu yang nyaman , dan..

• Makan dulu secukupnya sebelum masuk ke sini, karena tidak ada penjual makanan satupun di dalam area museum.

Be happy, enjoy yourself and don’t forget to take a lot of selfies and video!

Share To: